Ikhtisar:Bank Indonesia memastikan intervensi di pasar spot masih berjalan. Porsinya kini sekitar 30 persen dari seluruh intervensi valuta asing yang dilakukan bank sentral.

Angka itu disampaikan langsung oleh Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, dalam tayangan Zona Bisnis Metro TV, Rabu (7/10/2026).
“Jangan pernah punya kesimpulan atau bacaan BI akan mengurangi intervensi spot,” kata Erwin. “Kami tetap berkomitmen menjaga stabilitas dengan bauran intervensi kita.”
Jadi pasar spot belum ditinggalkan. Yang berubah, instrumen lain ikut dimainkan lebih banyak.
Daftar isiPorsi 30 Persen, Tanpa Angka Pembanding
Keterangan Erwin menyisakan satu lubang yang belum ditutup. BI tidak menyebut nilai absolut intervensi valasnya, sehingga porsi 30 persen itu tidak bisa diterjemahkan menjadi berapa dolar yang benar-benar dilepas ke pasar dalam periode tertentu. Tidak ada juga angka pembanding dari periode sebelumnya di dalam pernyataan tersebut.
Artinya arah perubahannya belum bisa dipastikan dari mulut BI sendiri. Angka 30 persen bisa berarti porsi spot menyusut, bisa juga berarti instrumen lain yang tumbuh lebih cepat. Tanpa basis perbandingan, keduanya sama-sama mungkin.
Yang jelas disebut, BI akan memanfaatkan instrumen lain seperti domestic non-deliverable forward (DNDF) dan non-deliverable forward (NDF). Menurut Erwin, pengembangan kedua instrumen itu dapat membuat operasi moneter lebih efektif sekaligus lebih efisien jika dibandingkan intervensi melalui pasar spot. Dua kata itu, efektif dan efisien, adalah seluruh penjelasan resmi yang tersedia soal alasan di balik pergeseran komposisi tersebut.
Tidak ada rincian mekanisme, tidak ada angka biaya, tidak ada perbandingan historis. MetroTVNews.com yang memberitakan pernyataan ini juga hanya menyalin keterangan Erwin tanpa melampirkan data pembanding.
Sampai ada angka pembanding, satu-satunya cara membaca porsi 30 persen adalah sebagai potret sesaat, bukan tren.
Cadangan Devisa US$146,3 Miliar Jadi Latar Rilisnya
Pernyataan BI itu muncul tidak lama setelah angka cadangan devisa September 2026 beredar. Posisinya US$146,3 miliar. Kontan menilai cadev tersebut tetap kuat berkat strategi berlapis BI dalam menjaga rupiah, dan menyebut bank sentral kini lebih hemat dolar.
Dua frasa itu, “strategi berlapis” dan “lebih hemat dolar”, menarik karena sejalan dengan logika memindahkan sebagian beban intervensi dari pasar spot ke instrumen forward. Tapi keduanya juga bertabrakan dengan penegasan Erwin bahwa tidak ada pengurangan intervensi spot. Benturan itu akan dibahas lagi di bagian bawah.
Yang perlu dipegang dulu soal angka: cadev adalah stok, bukan arus. Posisi US$146,3 miliar menunjukkan berapa yang tersimpan di akhir September, bukan berapa yang dipakai BI untuk mengintervensi pasar sepanjang bulan itu. BI tidak mempublikasikan angka arus tersebut.
Pasar sendiri sudah menunggu rilis cadev sebelum angkanya keluar. Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyebut pelaku pasar memilih wait and see menjelang data cadangan devisa Indonesia dan risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat. “Rupiah diperkirakan dibuka datar terhadap dolar AS dengan potensi menguat terbatas,” kata Lukman, dikutip Antara lewat Suara Surabaya.
Rupiah Bergerak di Kisaran Rp17.800-an Sepanjang Rabu
Di pasar, rupiah ditutup menguat pada Rabu (7/10). Beberapa media melaporkan level yang tidak persis sama karena waktu pengambilan datanya berbeda.
Rupiah dibuka naik 33 poin atau 0,18 persen ke Rp17.866 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.899. Angka pembukaan ini dilaporkan Suara Surabaya mengutip Antara. Saat penutupan, Batampos (Jawa Pos) mencatat rupiah di Rp17.887, naik 12 poin atau 0,07 persen.
Koridor.co.id menulis Rp17.882 dengan kenaikan 0,1 persen dan menyebut aksi beli obligasi di pasar keuangan sebagai penopang. Edisi menempatkan pergerakan hari itu di kisaran Rp17.800-an.
Selisihnya kecil dan bukan pertentangan data. Ini soal jam pengambilan sampel. Yang lebih penting, rupiah tidak menembus Rp18.000 pada sesi itu.
Batas itu sebelumnya sempat disorot. VOI.id melaporkan prediksi untuk perdagangan Senin (5/10) bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dan tekanan mengarah ke Rp18.000.
Untuk Selasa (6/10), VOI.id menulis rupiah diperkirakan masih tertekan oleh dolar AS, dengan pasar mencermati arah dolar dan harga minyak. Kontan untuk Rabu (7/10) memprediksi rupiah berpeluang menguat dengan pelaku pasar mencermati sejumlah sentimen.
Jadi arah harian rupiah sepanjang pekan itu masih diperdebatkan analis, dan hasil akhirnya menguat tipis di bawah Rp17.900.
Kenapa Forward Dianggap Lebih Efisien
Alasan yang diberikan BI bersifat teknis, bukan politik. Erwin menyebut pengembangan DNDF dan NDF dapat membuat operasi moneter lebih efektif dan lebih efisien dibanding intervensi melalui pasar spot. Itu saja.
Yang tidak dijelaskan BI: mekanisme mana yang membuat forward lebih murah, berapa biaya intervensi spot selama ini, dan seberapa besar likuiditas yang tersedia di pasar DNDF domestik untuk menyerap tekanan kalau kurs bergerak cepat.
Yang bisa dibaca dari pernyataan itu, BI ingin punya lebih dari satu bantalan. Kalau pasar spot jadi satu-satunya pintu, setiap tekanan ke rupiah langsung menggerus valas di tangan. Dengan DNDF dan NDF ikut aktif, sebagian tekanan disalurkan lewat jalur yang tidak seluruhnya bersinggungan dengan stok dolar.
Tapi ini tafsir, bukan pernyataan resmi. Yang resmi cuma: spot tetap jalan, forward diperbesar.
Bagi pelaku pasar, konsekuensi yang bisa dilacak bukan di kurs spot harian, melainkan di sisi forward. Kalau aktivitas DNDF dan NDF benar-benar naik, yang bergerak lebih dulu adalah harga swap dan titik forward. Itu berpengaruh pada biaya menahan posisi terbuka semalam, bukan pada level penutupan rupiah hari ini.
Dua Bacaan yang Belum Bertemu
Di satu sisi, Erwin meminta pasar tidak menyimpulkan BI mengurangi intervensi spot. Di sisi lain, pemberitaan Kontan menyebut BI kini lebih hemat dolar dalam menjaga rupiah.
“Lebih hemat” dan “tidak mengurangi” bukan kalimat yang saling membatalkan. Tapi keduanya menghasilkan kesan berbeda di kepala pembaca. Yang pertama menyiratkan ada perubahan perilaku, yang kedua membantah adanya perubahan.
Perlu dicatat, tidak ada satu pun pernyataan resmi BI yang menyebut porsi 30 persen itu naik atau turun. Media yang mengutip angka tersebut, termasuk MetroTVNews.com, tidak memberi pembanding historis.
Ada satu hal lagi yang perlu disortir: pernyataan ini pertama muncul dari akun X @Metro_TV, dan MetroTVNews.com merupakan bagian dari grup yang sama. Itu bukan masalah, tapi artinya angka 30 persen sejauh ini beredar lewat satu jalur, bukan dari beberapa sumber independen yang mengonfirmasi secara terpisah.
Sampai ada data pembanding, pembacaan mana pun masih belum bisa diverifikasi.
Yang Bisa Dicek Sendiri
Intervensi valas BI tidak dipublikasikan dalam nilai rupiah atau dolar. Artinya, angka 30 persen itu tidak akan pernah bisa Anda kalikan dengan apa pun untuk mendapat angka nyata. Kalau ada pihak yang mengklaim BI “menghabiskan sekian triliun untuk intervensi”, angka itu tidak berasal dari laporan resmi.
Yang bisa diverifikasi hanya dua: posisi cadangan devisa dan kurs harian. Cadangan devisa September 2026 sebesar US$146,3 miliar sudah dirilis. Kurs dan data pasar harian dipublikasikan BI dan diberitakan ulang setiap hari oleh media yang kami kutip di bawah.
Dari sisi pasar, pergeseran komposisi intervensi punya satu implikasi yang bisa dilacak. Kalau porsi intervensi lewat DNDF dan NDF benar-benar membesar, aktivitas di instrumen forward akan naik.
Dampaknya terlihat pada harga swap dan titik forward. Trader yang memegang posisi terbuka semalam perlu tahu ke arah mana biaya rollover bergerak ketika likuiditas forward berubah.
Katalis terdekat yang sudah di depan mata adalah risalah rapat FOMC Amerika Serikat. Risalah itu memberi gambaran pertimbangan The Fed soal arah suku bunga dan penilaian mereka atas risiko inflasi, dan pasar menunggunya sebelum mengambil posisi lebih besar.
Setelah itu, rilis cadangan devisa periode berikutnya menjadi angka berikutnya yang layak dicermati.
Sampai ada pembanding historis untuk porsi 30 persen, satu hal yang pasti: Bank Indonesia belum mengubah kalimat komitmennya.
Sumber
- Postingan X @Metro_TV: https://twitter.com/Metro_TV/status/2107688149715698153
- MetroTVNews.com, “Kawal Nilai Tukar Rupiah, BI Tegaskan Intervensi Pasar Spot Tetap Berjalan”: https://www.metrotvnews.com/play/N9nCdwPE-kawal-nilai-tukar-rupiah-bi-tegaskan-intervensi-pasar-spot-tetap-berjalan
- Kontan.co.id, “Cadangan Devisa September US$146,3 Miliar, BI Dinilai Lebih Hemat Dolar”: https://nasional.kontan.co.id/news/cadangan-devisa-september-us-1463-miliar-bi-dinilai-lebih-hemat-dolar
- Suara Surabaya, “Rupiah Dibuka Menguat 33 Poin ke Rp17.866”: https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2026/rupiah-dibuka-menguat-33-poin-ke-rp17-866/
- Batampos (Jawa Pos), “Rupiah Menguat ke Rp17.887, Cadangan Devisa Jadi Sentimen Positif”: https://batampos.jawapos.com/ekbis/2610070050/rupiah-menguat-ke-rp17887-cadangan-devisa-jadi-sentimen-positif
- Koridor.co.id, “Nilai Tukar Rupiah Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS”: https://koridor.co.id/nilai-tukar-rupiah-menguat-ke-rp17882-per-dolar-as
- Edisi.co.id, “Kurs Rupiah ke Dollar Hari Ini 7 Oktober 2026”: https://www.edisi.co.id/ekonomi/amp/9717728689/kurs-rupiah-ke-dollar-hari-ini-7-oktober-2026-bergerak-di-rp17800-an
- VOI.id, “Rupiah Senin 5 Oktober Diprediksi Fluktuatif”: https://voi.id/kr/amp/597011
- VOI.id, “Rupiah Diprediksi Masih Tertekan”: https://voi.id/amp/597205/rupiah-diprediksi-masih-tertekan-pasar-cermati-arah-dolar-as-dan-harga-minyak
- Kontan.co.id, “Prediksi Rupiah Rabu (7/10)”: https://investasi.kontan.co.id/news/prediksi-rupiah-rabu-710-berpeluang-menguat-ini-level-yang-perlu-dicermati
- Pintu News, “1.000 Dollar Berapa Rupiah Hari Ini?”: https://pintu.co.id/news/291851-1-000-dollar-berapa-rupiah-hari-ini-cek-kurs-usd-idr
- Kompasiana, “Rupiah di Tengah Tekanan Global”: https://www.kompasiana.com/nurulmardiahrangkuti5924/6ac39f3fc925c47f517392d0/rupiah-di-tengah-tekanan-global-mengapa-nilai-tukar-terus-berfluktuasi