Ikhtisar:IHSG hari ini, Senin (5/10/2026), diprediksi melanjutkan penguatan setelah rebound 0,46 persen ke level 6.036,89 pada penutupan Jumat (2/10/2026).

Pendorong utamanya: peluang kenaikan suku bunga The Fed pada rapat FOMC 28 Oktober menyusut jadi sekitar 20–22,1 persen, turun tajam dari 64,2 persen sepekan sebelumnya.
Ada ganjalan besar di baliknya. Asing masih kabur. Jual bersih investor asing mencapai Rp1,27 triliun hingga Rp1,31 triliun per hari, sehingga akumulasi net foreign sell sepanjang tahun berjalan (YTD) menembus Rp107,43 triliun. Secara year-to-date, IHSG sudah terpangkas 30,18 persen.
Bagi pembaca yang memegang posisi USD/IDR, dua angka itu yang paling relevan. Rupiah ditutup menguat 0,47 persen ke Rp17.875–Rp17.882 per dolar AS pada Jumat lalu, ditopang intervensi Bank Indonesia di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan NDF offshore.
Daftar isiRebound dari Level Psikologis 6.000, Teknologi dan Energi Jadi Motor
IHSG berhasil bangkit dari level psikologis 6.000 pada perdagangan Jumat. Sektor teknologi memimpin dengan kenaikan 1,51 persen, disusul energi 1,12 persen. Penguatan menyebar ke saham-saham berkapitalisasi besar.
BBCA naik 1,67 persen. DCII melesat 3,66 persen. ASII menguat 2,66 persen. GOTO rebound 7,14 persen. Kombinasi ini yang mengangkat indeks keluar dari tekanan.
Sepanjang pekan perdagangan 28 September sampai 2 Oktober 2026, IHSG tetap anjlok 3,28 persen, ditutup pada level 6.036 dibandingkan posisi pekan sebelumnya di 6.241. Angka ini dikonfirmasi Sekretaris Perusahaan BEI Elsierra Putri Yosita dalam keterangan resmi yang dikutip SINDOnews.
Kapitalisasi pasar BEI ikut terkoreksi 2,55 persen, dari Rp10.905 triliun menjadi Rp10.627 triliun. Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 7,54 persen menjadi 1,68 juta kali transaksi, dari sebelumnya 1,82 juta kali.
Perhatikan polanya. Volume dan nilai transaksi harian justru naik meski frekuensi dan kapitalisasi turun. Artinya, uang yang berpindah lebih besar per transaksi, tapi jumlah pelakunya menyusut.
Setahun Asing Kabur Rp107 Triliun, IHSG Sudah Minus 30 Persen
Net foreign sell YTD Rp107,43 triliun bukan angka kecil. Bandingkan dengan kapitalisasi pasar BEI yang kini Rp10.627 triliun. Aliran keluar ini berlangsung konsisten, hari demi hari, tanpa jeda berarti.
Kinerja IHSG YTD yang minus 30,18 persen menempatkan bursa Indonesia di antara yang terburuk. Tekanan datang dari kombinasi faktor global dan domestik, termasuk kekhawatiran soal arah suku bunga AS dan gejolak politik domestik yang sempat menghantam pasar pada akhir pekan sebelumnya.
Kabar baiknya datang dari data tenaga kerja AS. US Nonfarm Payrolls periode September 2026 hanya bertambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah estimasi konsensus 90.000. Tingkat pengangguran AS naik ke 4,2 persen.
Data ini mengubah ekspektasi pasar secara drastis. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada FOMC 28 Oktober merosot dari 64,2 persen menjadi sekitar 20–22,1 persen.
Indikator risiko ikut mereda. CBOE Volatility Index (VIX) turun 6,59 persen ke posisi 15,31. Yield US Treasury merosot. Wall Street ditutup menguat akhir pekan lalu: Dow Jones naik 0,49 persen, S&P 500 melesat 0,73 persen, Nasdaq melonjak 1,19 persen.
Bagi pasar Indonesia, ini penting karena asing cenderung menarik dana dari negara berkembang saat ekspektasi suku bunga AS naik. Ketika ekspektasi itu mengendur, tekanan pada rupiah dan IHSG ikut berkurang.
Kenapa The Fed dan Stimulus Rp31 Triliun Jadi Kunci Rupiah
Ada dua jalur yang menentukan arah USD/IDR pekan ini.
Jalur pertama: selisih suku bunga. Kalau The Fed tidak jadi menaikkan bunga, imbal hasil aset dolar AS turun relatif terhadap aset rupiah. Ini mengurangi insentif untuk memegang dolar dan menekan USD/IDR ke bawah.
Jalur kedua: arus modal. Asing yang keluar dari saham Indonesia butuh dolar untuk repatriasi. Selama net foreign sell berlanjut, permintaan dolar tetap ada, dan ini menahan penguatan rupiah.
Dua jalur ini berlawanan arah. Itu sebabnya rupiah bergerak naik 0,47 persen, tapi tidak lebih tajam.
Bank Indonesia tidak tinggal diam. Intervensi dilakukan di tiga pasar sekaligus: spot, DNDF, dan NDF offshore. Strategi tiga jalur ini bertujuan menjaga stabilitas tanpa harus menguras cadangan devisa secara berlebihan.
Dari sisi domestik, pemerintah menyiapkan stimulus Rp31 triliun pada kuartal IV-2026. Isinya: bantuan pangan dan subsidi upah. Tujuannya menjaga daya beli masyarakat agar konsumsi rumah tangga tidak ikut ambruk.
Stimulus ini relevan untuk pasar saham karena sektor konsumer dan ritel bergantung pada daya beli. Tapi efeknya ke rupiah lebih tidak langsung. Stimulus yang terlalu besar bisa melebarkan defisit fiskal, dan itu justru risiko jangka menengah untuk nilai tukar.
Proyeksi Analyst Belum Sepakat, Rentang Lebarnya Signifikan
Tiga sekuritas merilis proyeksi rentang IHSG untuk perdagangan hari ini. Angkanya berbeda cukup jauh.
Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan support di 5.973 dan 5.851, resistance di 6.180 dan 6.335. BRI Sekuritas memperkirakan support 6.000–5.854 dan resistance 6.100–6.110. MNCS menargetkan rentang 5.949–6.083.
Selisih resistance terjauh (Mirae, 6.335) dan terdekat (MNCS, 6.083) mencapai 252 poin. Ini bukan perbedaan kecil. Artinya, para analyst sendiri belum sepakat seberapa kuat rebound ini bisa berlanjut.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai IHSG sedang membentuk pola wave (X).
“Indikator Stochastics K_D sudah dalam kondisi jenuh jual secara ekstrem (extremely oversold) sembari membentuk pola golden cross bersamaan dengan munculnya volume spike,” ujarnya, dikutip The Econopost.
Perlu dicatat: semua ini proyeksi, bukan kepastian. Rebound 0,46 persen pada Jumat terjadi di tengah arus keluar asing yang masih berjalan. Kalau net foreign sell berlanjut dengan intensitas sama, level 6.000 bisa diuji lagi.
Ada juga ketidakpastian dari data yang belum keluar. Cadangan devisa dan indeks keyakinan konsumen bisa mengubah arah pasar dalam hitungan hari.
Apa yang Perlu Dipantau Pedagang Rupiah Pekan Ini
Ada dua rilis data domestik yang perlu masuk kalender Anda.
Cadangan devisa dirilis 7 Oktober. Angka ini menunjukkan seberapa besar amunisi Bank Indonesia untuk intervensi. Kalau cadangan turun tajam, kemampuan BI menahan pelemahan rupiah berkurang, dan itu bisa terlihat di pergerakan USD/IDR.
Indeks Keyakinan Konsumen dirilis 8 Oktober. Data ini mengukur seberapa optimistis rumah tangga berbelanja. Angka lemah berarti stimulus Rp31 triliun belum bekerja, dan itu negatif untuk sektor konsumer di IHSG.
Yang paling besar: rapat FOMC 28 Oktober. Probabilitas kenaikan suku bunga saat ini di kisaran 20–22,1 persen. Kalau angka ini berubah setelah data inflasi AS keluar, ekspektasi pasar bergeser, dan USD/IDR akan merespons lebih dulu sebelum IHSG bergerak.
Untuk posisi USD/IDR, perhatikan biaya menginap (swap/rollover). Kalau rupiah terus menguat karena ekspektasi The Fed mereda, biaya menginap untuk posisi buy USD/IDR cenderung naik. Sebaliknya, kalau net foreign sell berlanjut dan dolar menguat, posisi sell USD/IDR yang menanggung biaya lebih besar.
Yang jelas, spread di USD/IDR bisa melebar saat rilis data besar. Kalau Anda memegang posisi terbuka menjelang 7, 8, dan 28 Oktober, pastikan margin cukup untuk menahan pelebaran spread dan volatilitas.
Semua angka level di atas adalah proyeksi analyst dan harga penutupan yang sudah terjadi, bukan rekomendasi trading. Artikel ini bukan saran investasi.
Sumber
- Postingan X @TheEconopost, 5 Oktober 2026.
- The Econopost, “IHSG Hari Ini (5/10) Diramal Menguat di Tengah Badai Foreign Sell”.
- SINDOnews Ekbis, “IHSG Anjlok 3,28% dalam Sepekan, Intip Daftar Saham yang Boncos dan Cuan”.