Ikhtisar:Rupiah tembus Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan Kamis (24/9), menjadikannya mata uang dengan performa terburuk di Asia. Di tengah tekanan itu, seorang warganet dengan akun @juyeonzec_ menulis di X: "Rupiahnya melemah, jadi mending boikot dan beli barang bekas." Ucapan itu memicu perdebatan kecil di kolom komentar.

Daftar isiAngka di Balik Pelemahan
BI mencatat rupiah berada di Rp17.903 per dolar AS siang ini, melemah 0,3% dari penutupan sebelumnya di Rp17.818. Sepekan terakhir, rupiah bergerak di kisaran Rp17.800-Rp17.900. Level Rp17.900 sempat disentuh dan langsung menjadi sorotan.
Penyebabnya? BI menyebut ekspektasi pengetatan moneter AS, yield US Treasury 10 tahun yang naik ke 5,11% (tertinggi sejak 2007), dan konflik Timur Tengah yang mendorong harga minyak Brent di atas US$100 per barel. Analis Doo Financial Lukman Leong menambahkan, harga minyak melonjak setelah Iran meragukan kemajuan perundingan damai dengan AS.
Dari dalam negeri, tekanan datang dari kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III dan capital outflow dari pasar emerging market. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut Fed Fund Rate naik ke 3,75%-4% pada September 2026, dengan peluang kenaikan lanjutan masih tinggi.
Boikot: Solusi atau Sekadar Pelarian?
Seruan boikot di media sosial bukan hal baru. Saat rupiah melemah, warganet kerap mengajak mengurangi konsumsi barang impor. Postingan @juyeonzec_ hanya mendapat 1 komentar, tapi mewakili sentimen yang menyebar di linimasa.
Ekonom menilai boikot berdampak kecil pada nilai tukar. “Pelemahan rupiah lebih ditentukan faktor global, bukan permintaan impor,” kata Lukman. Namun, boikot bisa menekan impor barang konsumsi, yang pada gilirannya mengurangi kebutuhan valas. Efeknya baru terasa dalam jangka menengah.

BI di Pasar: Intervensi dan Instrumen
BI memastikan terus hadir di pasar. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Erwin Gunawan Hutapea menyatakan bank sentral memperkuat operasi moneter pro-market, mengoptimalkan NDF di offshore, spot dan DNDF di domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Gubernur BI Destry Damayanti menambahkan, BI memperluas insentif untuk aliran masuk portofolio asing, termasuk memperluas underlying transaksi Swap dan DNDF yang semula hanya portfolio inflows menjadi juga pinjaman luar negeri bank dan FDI. BI-Rate tetap di 5,75%.
Cadangan devisa Indonesia naik ke US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. “Fundamental kita masih bagus, yang mempengaruhi rupiah adalah global yang overshooting,” kata Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman.
Dampak ke Kantong dan Portofolio
Pelemahan rupiah berarti harga barang impor naik. Elektronik, gadget, hingga bahan baku industri ikut terkerek. Bagi yang memegang posisi USD/IDR, pelemahan rupiah menguntungkan. Namun, bagi yang punya utang valas atau berencana liburan ke luar negeri, biayanya membengkak.
Untuk trader, perhatikan spread dan overnight interest. Saat volatilitas tinggi, spread melebar. BI yang agresif intervensi bisa membuat pergerakan rupiah tidak mulus, sehingga risiko slippage naik.
Prediksi dan Level Kunci
Analis memproyeksikan rupiah bergerak di Rp17.800-Rp17.950 per dolar AS. Level psikologis Rp18.000 menjadi ujian berikutnya. Jika tembus, tekanan semakin besar. Namun, BI dipastikan akan mempertahankan stabilitas.
Koran Jakarta menulis, sentimen global masih dominan. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi melihat pasar mencermati negosiasi AS-Iran dan kebijakan The Fed. “70% kenaikan 25 bps di Oktober dan lebih dari 50% kenaikan lagi di Desember,” kata Lukman.
Yang Bisa Anda Lakukan
Pantau pengumuman data inflasi AS dan keputusan The Fed. Jadwal rilis data ekonomi Indonesia juga penting. Jika rupiah melemah, harga barang impor naik, jadi pertimbangkan belanja barang lokal. Untuk trader, perhatikan level support dan resistance, serta kelola risiko dengan ketat.
Jangan lupa cek kurs di aplikasi bank atau platform trading Anda. BI juga menyediakan data JISDOR harian di situs resminya.
Sumber
- Postingan X @juyeonzec_
- CNN Indonesia: BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Melemah
- ANTARA: Rupiah melemah dipengaruhi harga minyak
- Warta Ekonomi: Awal Perdagangan Rupiah Dibuka Melemah
- Koran Jakarta: Sentimen Global Masih Dominan
- OWRITE: Rupiah Tertekan hingga Rp17.855