简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Dolar AS Menguat Terdorong Isu Selat Hormuz dan Ekspansi Manufaktur
Ikhtisar:Dolar AS mencatatkan penguatan secara luas di tengah kebuntuan perundingan geopolitik yang menahan pembukaan Selat Hormuz serta kuatnya rilis data ekspansi manufaktur domestik. Kondisi ini memicu kekhawatiran berlanjutnya tekanan inflasi dari sektor energi sekaligus memudarkan harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kinerja mata uang greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat ke kisaran 99,18.
Kenaikan ini dipicu oleh tertundanya pembukaan kembali Selat Hormuz di tengah jeda penyelesaian dan buntunya kompromi geopolitik mengenai konflik di Timur Tengah.
Ketidakpastian pada jalur utama pasokan energi dunia tersebut telah mendorong harga minyak mentah melonjak tajam, yang pada akhirnya memicu kembali kekhawatiran inflasi berbasis komoditas dan memperkuat permintaan terhadap Dolar AS.
Dampak penguatan ini menekan sejumlah mata uang lainnya di pasar. Dolar AS tercatat unggul melawan pergerakan Yen Jepang yang terdorong hingga menembus kisaran 159,66.
Tekanan pada mata uang Jepang tersebut juga sejalan dengan rilis fundamental domestiknya, di mana basis moneter Jepang dilaporkan merosot sebesar 12,2 persen secara tahunan pada bulan Mei.
Laju penurunan likuiditas ini lebih buruk dari yang diproyeksikan dan kian memberatkan posisi Yen. Di tempat lain, Dolar Kanada dan Franc Swiss juga tidak luput dari tekanan pelemahan terhadap Dolar AS.
Dari sisi fundamental domestik Amerika Serikat, dukungan terhadap Dolar menjadi semakin kokoh setelah rilis laporan sektor manufaktur yang kuat.
Indeks aktivitas manufaktur sukses meningkat secara nyata pada bulan Mei menjadi 54,00, setelah sempat tertahan dalam dua bulan sebelumnya di level 52,70. Pencapaian ini berada cukup jauh di atas prediksi pertumbuhan awal ekonomi.
Kombinasi antara kuatnya ketahanan roda ekonomi domestik serta munculnya kembali potensi inflasi dari naiknya kebutuhan energi sukses meredam ekspektasi pelonggaran moneter.
Saat ini, pelaku pasar hanya melihat probabilitas yang sangat tipis, yakni sekitar 1,60 persen, untuk terjadinya pemangkasan suku bunga acuan pada pertemuan bank sentral di pertengahan bulan Juni mendatang.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
