Ikhtisar:Harga minyak mentah dunia melonjak melampaui valuasi historis akibat gangguan rantai pasokan global, memicu peringatan dari Federal Reserve terkait risiko inflasi yang persisten.

Lonjakan harga minyak mentah akibat hambatan rantai pasokan logistik energi terus membayangi prospek makroekonomi global. Gangguan struktural pada jalur distribusi utama telah memaksa pasar untuk mengevaluasi ulang risiko pasokan komoditas energi jangka panjang.
Proyeksi Harga Semakin Ketat
Berdasarkan riset terbaru dari tim strategi Rabobank, penyusutan inventaris telah mendorong harga fisik minyak mentah melampaui level psikologis $120 per barel, dengan beberapa kargo di pasar Asia (Dubai) diperdagangkan di kisaran $150 hingga $166 per barel. Pemulihan rantai pasokan diperkirakan berjalan lambat, dengan distribusi pengiriman harian diproyeksikan baru akan menyentuh tingkat 80% dari kapasitas normal pada bulan Agustus mendatang.
- Brent Q2: $107
- Brent Q3: $96
- WTI Q2: $98
Dampak Terhadap Lintasan Kebijakan Moneter
Transmisi kenaikan harga energi ini mulai menarik perhatian serius dari para pengambil kebijakan moneter. Pejabat Fed, Austan Goolsbee, menyatakan bahwa lonjakan harga minyak global adalah masalah yang “sangat serius”. Menurut Goolsbee, dampak destruktifnya terhadap upaya disinflasi bank sentral sangat bergantung pada durasi lonjakan harga.
Analisis dari ING Group menyoroti tekanan inflasi di Korea Selatan semakin tereskalasi, memperparah tantangan bagi bank sentral global yang mengharapkan pelonggaran kebijakan dovish.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.